Menuju Persatuan Islam

persatuan umat islamPerjalanan menuju persatuan Islam sangat tergantung terutama pada latar akidah yang benar, dan dasar akidah yang benar tergantung pada keikhlasan kaum muslimin dalam beriman kepada Allah Swt dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Doktrin akidah ini akan menjamin musnahnya segala macam penghambaan, kecuali penghambaan kepada Allah Swt, yang justeru akan memberikan seorang muslim kebebasan yang sempurna, dimana ia tidak perlu menghambakan diri kepada seorang pemimpin, karena ia tidak diciptakan untuknya, tidak mengambil sekutu bagi Allah Swt dimana ia mencintainya seperti mencitai Allah Swt, tidak mentaati pemerintahnya seperti ketaatan kepada Allah Swt, tidak ada hak bagi raja dan para pemimpin untuk melakukan semua apa yang mereka inginkan, terlebih jika hal itu bertentangan dengan agama dan berlawanan dengan kepentingan umat Islam.

Inilah keimanan yang hakiki dan tauhid yang murni, ini merupakan syarat pokok, dimana kebebasan kaum muslimin tidak akan pernah dapat direalisasikan, baik dalam diri mereka maupun dalam lingkungan sosial, kecuali jika mereka mampu mewujudkan ketauhidan yang murni ini. Inilah yang secara singkat disebut dengan wihdah ilahiyyah.

Poin kedua adalah apa yang disebut dengan wihdah rububiyyah

Wihdah rububiyyah mengharuskan kita kita untuk tidak bertindak sebagai legislator atau tunduk pada legislator lain dalam pokok-pokok agama dan pokok-pokok hukum Syariah, kecuali kepada Allah Swt, berdasarkan wahyu-wahyu Allah Yang Maha Esa, Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Saw, serta ijtihad yang berkedudukan sama sebagai sumber hukum menurut para mujtahid.

Untuk mencapai persatuan Islam yang diidamkan harus dimulai dengan penyebaran hukum-hukum Islam, beramal sesuai dengan tuntutan syariah islam dan menghapuskan hukum-hukum asing yang merasuk ke dunia Muslim. Perpecahan yang terjadi dalam tubuh umat Islam, bukanlah terletak pada jantung hati umat Islam, akan tetapi dalam hal-hal yang yang sudah kami sebutkan, karena kebodohan dan taklid buta kita terhadap Barat, karena kita dipengaruhi oleh para imperlialis, dan karena hati, pemikiran dan jiwa kita tengah terjajah secara intelektual, dan kita tidak bisa melepaskan diri dari penjajahan asing ini, kecuali dengan membebaskan akal intelektual kita dari hegemoni mereka.

Tidak mungkin bagi negara-negara Muslim untuk tetap mengamalkan tuntutan hukum yang telah diwahyukan oleh Allah Swt, melalui hukum yang diletakkan pihak asing di negara mereka. Mungkin ada sesuatu yang baik dalam hukum-hukum mereka, mungkin ada sistem keadilan, akan tetapi selama tidak sesuai dengan hukum Islam dan aturan-aturannya, dan selama kita tidak menggunakannya dengan alasan, maka kita termasuk orang yang berdosa.

Tidak mungkin umat Islam, di negeri manapun, akan sepenuhnya bersatu, kecuali jika sudah memiliki kesatuan dalam syariatnya, kecuali setelah menggugurkan undang-undang asing tersebut bagaimanapun keadaannya, kemudian kembali dan melihat ke arah dirinyanya, lalu menghidupkan kembali hukum Islam, mempelajarinya dan mengajarkannya. Saya yakinkan anda bahwa fikih Islam adalah salah satu hal yang paling merepresentasikan pemikiran Islam, lebih dari pada semua ilmu Islam lainnya. Karena fikih Islam didasarkan pada pernyataan para mujtahid, dan para mujtahid tidak akan mengatakan sesuatu atau berpikir tentang sesuatu, kecuali untuk mencari cara aplikatif, tentang penerapan pemahaman mereka tentang Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Saw.

Akan tetapi, ijtihad wajib terbebas dari campuran nafsu dan syahwat, keinginan untuk memimpin, mendapatkan pujian, atau mengetengahkan ide-ide progresif yang jauh dari kebenaran Islam. Ijtihad harus bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, berdasarkan kemaslahatan kaum muslimin di semua ruang dan waktu dan sesuai tuntutan peristiwa yang dialami oleh Mufti atau Mujtahid, tanpa dicampuri hawa nafsu, atau atas dasar kepentingan tertentu, menjilat penguasa, dan bukan untuk memperlihatkan kemajuan berpikir, serta menyanjung ide-ide yang berasal dari asing. Jika ijtihad telah memenuhi syarat sebagaimana mestinya, maka Islam telah mengizinkan kaum Muslim untuk melakukannya dan pada kenyataannya memang harus dilakukan.

Umat Islam telah mewarisi warisan besar dalam wujud fikih yang tidak dimiliki orang lain. Tidak Romawi, Latin, Goth dan Slavia atau ahli-ahli hukum yang hidup pada zaman ini. Mereka tidak dapat berbangga diri dengan apa yang bisa dibanggakan kaum Muslim dari kekayaan besar khazanah hukum Islam dengan berbagai mazhab yang berbeda mulai dari Sunni, Syiah, Hanbali, Maliki, Hanafi dan semua mazhab fikih Islam, meskipun mereka berbeda dalam beberapa hal. Semua ini sangat bermanfaat bagi legislator zaman sekarang, maksudnya, bagi orang yang ingin mengkodifikasi fikih secara modern di negara Islam, untuk mengambil berbagai pendapat berdasarkan dalil dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Saw.

Masyarakat islami harus menjadi masyarakat solidaritas, karena semua anggotanya adalah sama, mereka semua khalifah Allah Swt di muka bumi. Semua ditugaskan untuk menegakkan keadilan, semua ditugaskan untuk mengembangankan ekonomi mereka, semuanya ditugaskan untuk memperkuat produksi tempat bergantung para penduduknya, semua ditugaskan untuk membela kepemilikannya, semua ditugaskan untuk menyebarkan kebajikan di antara para anggotanya, semua ditugaskan untuk melawan kejahatan, semua ditugaskan untuk amar makruf nahi munkar. Inilah yang disebut nasionalisme, dan nasionalisme islami berarti solidaritas di antara semua anggotanya. “Seorang Muslim bagi Muslim lain seperti satu bangunan yang saling menguatkan.” Demikian redaksi sebuah hadits Nabi Saw. Dalam riwayat lain disebutkan, “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal rasa saling mencintai, saling mengasihi, saling berkasih sayang adalah seperti satu tubuh yang ketika satu anggota tubuh itu ada yang mengeluh, maka seluruh tubuh meraa mengaduh dengan terus jaga tidak bisa tidur dan merasa panas.”

Kaum Muslim adalah satu tangan, satu umat dan satu jamaah. Pekerjaan yang dilakukan oleh setiap individu dari mereka pada hakikatnya adalah salah satu pekerjaan anggota tubuh umat secara keseluruhan, salah satu anggotanya yang melakukan berbagai pekerjaan umat. Kita adalah salah umat yang satu dan blok yang satu. “Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah aku.”[1] Dalam firman-nya yang lain, “dan Aku adalah Tuhan kalian, maka takutlah kalian kepadaku.[2] Jadi, semua umat Islam, jika kita memang menyebutnya sebagai umat, atau kita sebut sebagai bangsa sebagaimana yang populer pada saat ini, pada hakikatnya adalah satu bangsa, semua adalah orang-orang muslim mulai dari tanah Cina hingga ke Afrika Selatan.[3]

Kita sekarang tengah menghadapi musuh yang mengerikan, musuh yang telah menyerang negara Islam tersuci, menyerang Palestina, menyerang Tanah Suci, menyerang kiblat pertama dan tempat Isra Nabi Muhammad Saw. Al-Quds kini tengah diserang oleh kaum Zionis yang amat jahat, orang-orang Yahudi dan musuh-musuh Islam yang bersekutu dengan mereka , karena mereka tidak dapat melakukan sesuatu kecuali dengan tali Allah Swt dan tali manusia, tapi, insya Allah, mereka akan kembali dengan membawa murka Allah, sesuai dengan janji-Nya dan Dia tidak akan mengingkari janji-Nya. Namun, kondisi tersebut akan terjadi jika syaratnya terpenuhi, yaitu kebangkitan kaum muslimin dan solidaritas mereka satu sama lain dalam jalan perjuangan ini.

Nasionalisme berarti cinta akan negara Islam. Tapi tidak ada negara tanpa iman. Negara Islam, jika tidak ada lagi nilai-nilai Islam di dalamnya, tidak menegakkan hukum Islam, maka dengan sangat menyesal, negara itu tidak lagi bisa disebut negara Islam. Kemarin, Andalusia merupakan negeri Islam dan tanah leuhur kita, akan tetapi kemudian kita diusir keluar dari sana, apakah masih termasuk negeri kita? Tidak, karena Islam tidak lagi tinggal disana. Oleh karena itu, kita harus mengerahkan semua kekuatan kita untuk mempertahankan Islam di negeri Islam, untuk membela Islam di negeri Islam, khususnya di negeri yang kini terjajah, diperbudak, negeri yang dikuasai oleh Zionis Yahudi asing, penjajah yang kini ingin menenun untaian sarang laba-labanya untuk menjerat dan menguasai negeri kaum muslimin dan wilayah-wilayahnya, serta memanjakan kolonisasi tanah-tanah kaum muslimin yang didukung oleh para imperialis Barat dan Timur.

Sayangnya, kaum Muslim yang seharusnya berdiri untuk membela negeri-negeri Islam telah terjebak oleh propaganda pemikiran asing. Beberapa dari mereka menggunakan istilah kebangkitan, beberapa dari mereka menggunakan nama komunisme, sebagian lain menyebutnya sosialisme Arab dan kelompok lainnya mengatasnamakan nasionalisme. Nasionalisme ini memiliki kecenderungan yang berbeda, termasuk di dalamya nasionalisme ateistik dan nasionalisme regional yang sempit. Semua ini tidak sesuai dengan risalah Islam dan kesatuan Islam. Mereka menuduh bahwa seruan untuk menumbuhkan solidaritas berarti mendirikan aliansi antar bangsa untuk melawan negara-negara asing atau untuk mendukungan beberapa negara asing, “Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.”[4]

Sesungguhnya ide solidaritas Islam keluar dari hati yang beriman kepada Allah Swt, jujur , seruan menuju kebenaran, tidak ada keinginan lain kecuali kebaikan bagi Islam dan kaum Muslimin. Baik, katakanlah solidaritas ini sebagai sebuah persekutuan, sebuah pakta atau perjanjian antara bangsa-bangsa muslim, akan tetapi, apa keburukan hal itu bagi kita? Jika kita tidak dapat mencapai solidaritas kecuali dengan menggunakan bahasa-bahasa modern, misalnya Pakta negara-negara Islam, apakah kerugiannya? Apa dampak negatifnya bagi kita?

Saudaraku yang tercinta, saya katakan terus terang, bahwa musuh Islam dari Barat, Timur, Tentara Salib, gerakan Zionisme dan Marxisme telah berkonspirasi untuk menghancurkan negara-negara Islam, dan mereka kali ini tidak hanya menggunakan senjata militer, akan tetapi melalui perangkat sosial, yang sudah didirikan di negeri-negeri Islam. Sehingga kita bisa menemukan perlawanan sengit justru berasal dari generasi-generasi Islam, atau tokoh-tokoh Islam, lebih dari yang lain. Oleh karena itu, umat Islam yang masih tersadar haruslah waspada, dan terus berupaya untuk memperjuangkan gagasan ini, yaitu gagasan solidaritas dan persatuan Islam.

Olah: Alal al Fasi*

Cendekiawan Muslim dari Maroko


* Syeikh Alal al-Fasi dilahirkan di kota Fez, Maroko, menimba ilmu di Universitas Qairawan, dan seorang Professor Filsafat Islam dan Tarikh Tasyri Islam.

[1] QS. al-Anbiyaa`: 92

[2] QS. Al-Mu`minuun: 52

[3] Saya melalukan beberapa perubahan dalam paragraf ini, sehingga maknanya lebih mudah dipahami. Adapun paragraf aslinya sebagai berikut: Dengan demikian, ummat, secara keseluruhan, ummat islamiyyah, jika memang kita menaminya sebagai ummat, jika tidak, maka pada hakikatnya adalah ummat yang satu. Dan jika kita menyebutnya sebagai bangsa, seperti ungkapan populer saat ini, maka ia adalah bangsa yang satu, bangsa muslim, dari negri Cina hingga Afrika Selatan.

[4] QS. Al-Kahfi: 5

http://www.taqrib.info/indonesia/index.php?option=com_content&view=article&id=1096:menuju-persatuan-umat-islam&catid=65:vahdat-va-taghrib&Itemid=141

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s