Konflik SARA

Konflik SARA saat ini sudah menjadi sebuah alat yang mutakhir untuk “meng-obok-obok” suatu negara. Siapa pelakunya? Tidak lain dan tidak bukan adalah Adidaya-adidaya dunia yang memiliki kepentingan atas berjalan dan majunya suatu negara. Konflik SARA sudah menyebar dimana-mana, sebagian diantaranya: Bahrain yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun dan memakan banyak korban, Myanmar yang baru-baru ini menarik perhatian dunia yang juga memakan bahkan ribuan korban, dan ironisnya… Indonesia. Ya, Indonesia adalah salah satu negara yang rawan akan sebuah konflik SARA. Dan ini bukan suatu hal yang baru, menurut cerita, sejak era penjajahan pun Imam Bondjol, salah seorang yang di nobatkan sebagai pahlawan Nasional itu pernah menyulut api konflik SARA di Sumatra. Beliau beserta pengikutnya dengan meng-atas-namakan Islam pernah membantai banyak orang di salah satu kota besar di Sumatra (saya lupa tepatnya kota apa) hanya berdasarkan perbedaan keyakinan. Itulah yang menyebabkan warga Kristen di kota tersebut sampai saat ini masih sulit untuk akur dan menerima keberadan orang Muslim di sekitarnya. Itu dulu, sekarang lebih lagi. Banyak orang-orang bayaran yang “dengan senang hati” menyulut api perang saudara antar warga atas dasar perbedaan keyakinan. Mereka dengan mudah dan senang hati naik ke mimbar-mimbar yang di kelilingi orang-orang awam dan mencaci-maki suatu golongan dan mengatakan bahwa dengan hidup damainya golongan tersebut akan membahayakan orang yang hidup di sekitarnya. Padahal sudah jelas-jelas Negara Indonesia ini adalah Negara yang menyurakan persatuan. Hal ini bisa di lihat dari slogan yang berada di bawah simbol Negara ini, “Bhineka Tuggal Ika”, “berbeda tetapi tetap satu”. Padahal setiap manusia memiliki haknya masing-masing untuk berpikir, berpendapat, dan memutuskan sesuatu yang menurutnya benar. Jadi wajar jika di dunia ini banyak perbedaan keyakinan. Bukankah memalukan jika Indonesia yang dengan jelas menyuarakan persatuan justru malah menjadi salah satu negara dengan konflik SARA ter-rawan? Coba kita tengok keluar sebentar, di Inggris, tepatnya Birmingham, terdapat sebuah sekolah Katolik yang 90 persen muridnya adalah muslim. Percaya atau tidak seperti itulah faktanya.

Surat kabar the Daily Mail melaporkan, Senin (16/7), Sekolah Dasar Katolik Rosary dibangun pada 1930 secara kolektif oleh para keluarga keturunan Irlandia menetap di kota itu. Awalnya ditujukan sebagai sarana pendidikan buat anak-anak mereka, lengkap dengan gereja dan sekolah menengah pertama. Tetapi dalam delapan dekade malah murid muslim berjumlah paling banyak di sekolah itu. Mereka kebanyakan keturunan Pakistan.

Sebagian besar siswa muslim di SD Rosary tinggal di dalam lingkungan dengan tradisi Islam melekat kuat. Bahkan beberapa ayah mereka adalah imam masjid dan tinggal tidak jauh dari tempat ibadah umat muslim itu. Tetapi uniknya, setiap pagi seluruh murid harus berkumpul dan berdoa bersama di hadapan patung Bunda Maria dan Yesus, tidak terkecuali siswa muslim.

Saat ini hanya sekitar 40 murid dari 400 anak menganut Katolik. Ternyata hal itu tidak hanya terjadi di institusi pendidikan itu. Beberapa sekolah Katolik lain di Kota Midlands dan North West, Inggris, pun kondisinya mirip, yakni siswa muslim malah mendominasi.

Pendeta dan satu anggota Dewan Kota Birmingham, Pastor Bernard Kelly, mengakui saat ini lingkungan tempat tinggalnya sudah banyak dihuni oleh pendatang muslim taat. “Malah orang tua mereka senang dan tidak keberatan anak-anak mereka belajar di sekolah Katolik ini,” kata Bernard. Dia mengatakan anak-anak itu juga mendengarkan pelajaran rohani Katolik, tapi tidak terpengaruh dengan hal itu.

SD Rosary dianggap membuat kemajuan besar lantaran menjadi pelopor pembauran di dalam lingkungan beragam latar belakang agama dan budaya. Mereka juga banyak membantu mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak pendatang itu.

Meski kebanyakan siswanya muslim, para pengajar dan staf sekolah SD Rosary berlaku adil. Selain menerapkan kurikulum Katolik, mereka juga membolehkan para murid muslim libur pada hari raya dan beribadah sesuai ketentuan.” (http://shabestan.net/id/). Maka dari itu, cukup sudah. Seberharga itukah kantong para penguasa? Hentikan semua omong kosong yang memecah belah masyarakat. Hentikan omong kosong yang mengganggu ketenangan warga. Apakah perlu anak-anak SD sampai mengajari ‘kita’ soal toleransi keyakinan?. []

ditulis: admin

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s