Nestapa Muslim Rohingya

Derita kaum Muslimin di dunia seakan tak ada habisnya. Bahkan  sejak perang dunia pertama kaum Muslimin sudah ditempa bencana dengan dibantainya, dijajahnya, dan dirampasnya hak-hak kaum Muslimin di Palestina oleh sekelompok kecil binatang (dengan rupa manusia) yang mengaku sebagai pewaris dunia yang juga didukung oleh adidaya super sombong.

Belum berakhir derita kaum Muslimin Palestina, pada awal 2011 rakyat Bahrain yang mayoritasnya adalah Muslim juga ditindas dan direbut hak-haknya, yang ironisnya dilakukan oleh pemerintahnya sendiri yang juga bisa dibilang Muslim (walaupun sebenarnya tidak layak disebut Muslim). Sama halnya dengan yang terjadi di Palestina, Barat dan dibantu beberapa Negara besar di Timur Tengah juga ambil andil dalam masalah ini. Hal ini bisa dilihat dari bungkamnya media di dunia soal pelanggaran HAM Yang dilakukan suatu pemerintahan terhadap rakyatnya sendiri.

Belum kering mulut ini mengucapkan rasa duka pada saudara di Palestina dan Bahrain, kini Muslimin yang memiliki etnis Rohingya di Myanmar juga meminta pertolongan. Rohingya adalah grup etnis yang kebanyakan beragama Islam di Negara Bagian Rakhine Utara di Myanmar Barat. Pembantain ini mulai merajalela setelah 10 lelaki Muslim dibunuh dalam bus di distrik Taungup oleh tentara dan ekstrimis Buddha pada bulan Juni 2012. Pembunuhan ini didasarkan oleh tuduhan (yang tidak terbukti) adanya seorang Muslim yang memperkosa dan membunuh seorang wanita Budha di Rakhine, Mei silam. Tetapi tidak jelas siapa yang bertanggung-jawab, karena tidak ada pengadilan untuk kasus itu. Setelah kejadian di bulan Juni tersebut, rakyat Muslim pun mulai melakukan protes dengan turun ke jalan. Bukannya ditanggapi mereka yang turun ke jalan malah ditembaki oleh aparat. Tidak berhenti sampai di situ, perbuatan mengerikan seperti pemenggalan kepala, penusukan, penembakan dan pembakaran, masih terjadi hingga saat ini bahkan meluas di Rakhine. Ironisnya hal ini didukung oleh pemerintah Myanmar sendiri. Presiden Thein Sein mengatakan bahwa Muslim Rohingya harus diusir dari negaranya dan dikirim ke kamp pengungsi yang dikelola oleh PBB. Pemerintah menolak untuk mengakui hampir satu juta komunitas Muslim Rohingya. Myanmar mengklaim Rohingya adalah bukan penduduk asli dan mengklasifikasikan mereka sebagai imigran gelap meskipun mereka telah tinggal di negara itu selama beberapa generasi.

Pembantaian ini sebenarnya sudah di muali sejak Perang Dunia II, ketika tentara Jepang menginvasi Burma, yang ketika itu merupakan koloni Inggris. Dikabarkan bahwa pada 28 Maret 1942, sekitar 5.000 Muslimin dibantai di perkotaan Minbya dan Mrohaung. Akibatnya mereka bermigrasi ke Banglades dan Malaysia, demi kehidupan yang lebih layak. Saat ini ada sekitar 300 ribu Muslim Rohingya tinggal di Banglades, sekitar 24 ribuan di Malaysia dan sekitar 100 ribu hidup di perbatasan Thailand-Myanmar. Entah ke mana media arus utama Barat yang selama ini sangat getol memberitakan pelanggaran HAM di Indonesia, Irak, atau Suriah? Di mana media, yang sangat gencar memberitakan penembakan penonton film Batman? Sehingga dunia baru mengetahuinya saat ini. Kita juga bertanya, ke mana Aung San Suu Kyi? Padahal kita menyaksikan belakangan ini, Suu Kyi sibuk menerima hadiah Nobel Perdamain — yang diberikan padanya pada 1991 dan sempat tertunda dua dekade. Kita mendapat kesan pemimpin oposisi Burma itu, seolah tidak peduli pada kekejaman yang menimpa orang-orang Rohingya.

Walhasil, masa depan Muslim Rohingya tampaknya tetap suram. Mirip nasib bangsa Palestina, kaum Muslim Rohingya memerlukan bantuan kemanusiaan segera dari seluruh dunia. Tidak peduli apakah mereka warga negara Burma atau bukan, mereka adalah manusia yang berhak hidup layak dan menjalankan agamanya sesuai keyakinan mereka.

Maka kita pun berharap bahwa tokoh Budha sekaliber Dalai Lama segera turun tangan dan menekan pemerintah Myanmar agar menghentikan pembantaian orang Rohingya. Tidak ada satu agama pun di dunia yang menyetujui kekerasan terhadap umat Islam Burma, dan bukankah ajaran Budha termasuk agama yang tidak menolerir tindakan serupa itu?

Harapan berikutnya adalah kepada pemerintah RI. Sebagai negara paling berperan di ASEAN, dan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia mesti segera bertindak, jika perlu, dengan ancaman untuk mengeluarkan Myanmar dari ASEAN.

Jangan sampai kita kalah lantang dibandingkan Iran, yang sejak awal terjadinya tragedi itu segera ‘berteriak’ mengecam sikap pasif Barat atas pelanggaran HAM dan kekerasan terhadap Muslim Rohingya itu. Tetapi, beranikah pemerintah kita bersikap lebih ‘galak,’ sehingga makin diperhitungkan di dunia internasional?”,Begitulah tutur Dosen Komunikasi Universitas Paramadina Jakarta, Syafiq Basri Assegaf.[m.b.a]

ditulis oleh: admin

Muhammad Bahesyti Al-kaff

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s